Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH

HHH (History...Heaven..Hell...)

Blog EntryMay 7, '06 4:09 AM
for everyone

Metode Penelitian Kepustakaan

(Mestika Zed)

 

Hampir semua penelitian memerlukan studi pustaka. Walaupun orang sering membedakan antara riset kepustakaan dan riset lapangan, keduanya tetap memerlukan penelusuran pustaka. Perbedaan utamanya hanyalah terletak pada fungsi, tujuan  dan atau kedudukan studi pustaka dalam masing-masing riset tersebut. Dalam riset pustaka, penelusuran pustaka lebih daripada sekedar melayani fungsi-fungsi  persiapan kerangka penelitian, mempertajam metodelogi  atau memperdalam kajian teoretis. Riset pustaka dapat sekaligus memanfaatkan sumber perpustakaan untuk memperoleh data penelitiannya tanpa melakukan riset lapangan.

Idealnya sebuah riset proesional menggunakan kombinasi riset pustaka dan lapangan dengan penekanan pada salah satu  di antaranya. Namun ada kalanya mereka membatasi penelitian pada studi pustaka saja. Paling tidak ada tiga alasan kenapa mereka melakukan hal ini. Pertama: karena persoalan penelitian tersebut hanya bisa dijawab lewat penelitian pustaka dan mungkin tidak bisa mengharapkan datanya dari riset lapangan. Kedua: studi pustaka diperlukan sebagai satu tahap tersendiri  yaitu studi pendahuluan untuk memahami gejala baru yang terjadi dalam masyarakat. Ketiga: data  pustaka tetap andal untuk menjawab persoalan penelitiannya.

Setidaknya ada empat ciri utama studi kepustakaan. Pertama: peneliti berhadapan langsung dengan teks dan data angka dan bukannya dengan  pengetahuan langsung dari lapangan atau saksi mata berupa kejadian , orang atau benda-benda lain. Kedua, data pustaka bersifat siap pakai. Ketiga: data pustaka umumnya adalah sumber sekunder yang bukan data orisinil dari tangan pertama di lapangan. Keempat: kondisi data pustaka tidak dibatasi oleh ruang dan waktu.

Banyak yang menganggap bahwa riset perpustakaan identik dengan buku-buku. Anggapan ini tidak salah namun selain buku-buku ada juga data yang berupa dokumen, naskah kuno dan bahan non cetak lainnya. Jadi, perpustakaan juga menyimpan karya non cetak seperti kaset,video, microfilm, mikrofis, disket, pita magnetik, kelongsong elektronik dan lainnya. Berbagai jenis koleksi perpustakaan ini disimpan berdasarkan klasifikasi tertentu. Salah satu sistem klasifikasi yang umum digunakan adalah  Sistem Dewey. Selain Sistem Dewey masih ada lagi sistem Library of Congress. Tetapi apapun sistem klasifikasi yang dipakai, peneliti harus mengenal beberapa koleksi terpilih yang dalam studi pustaka sering disebut alat bantu bibliografis. Yang termasuk ke dalam alat Bantu biblografis adalah: Buku-buku referensi (kamus, ensiklopedi, buku indeks, buku bibliografi yang berisi informasi soal aspek tertentu, buku tahunan, buku atlas,buku direktori, kamus biografi, koleksi khusus seperti kliping dan lainnya), bibliografi buku-buku teks, indeks jurnal ilmiah, indeks buletin dan majalah, indeks surat kabar dan tabloid,indeks dokumen,indeks manuskrip, dan sumber-sumber lainnya.

            Dalam melakukan riset kepustakaan, ada empat langkah yang biasa dilakukan. Langkah pertama adalah menyiapkan alat perlengkapan berupa pensil, pulpen dan kertas catatan. Langkah kedua adalah menyusun bibliografi kerja. Selanjutnya yang perlu dilakukan adalah mengatur waktu penelitian. Setelah itu yang perlu dilakukan adalah membaca dan membuat catatan penelitian. Yang perlu diingat, sebuah catatan bibliografis harus memuat nama pengarang dan identitas buku lainnya. Informasi bibilografis pun hanya boleh ditulis pada satu permukaan kertas catatan saja, tidak boleh bolak-balik dan sebaiknya diusahakan seefektif mungkin. Sediakan sedikit ruang di bagian bawah kertas untuk anotasi. Biasakan untuk melihat bibloigrafi di belakang buku yang dibaca untuk mencari informasi tambahan. Sediakan waktu untuk membaca resendi buku-buku terbaru yang relevan dengan penelitian ataupun buku teks standar yang paling relevan.

            Hampir semua jenis bahan bacaaan kepustakaan (buku, artikel atau essei) dikelompokkan sebagai data sekunder. Namun dari sudut metodelogi sejarah, sejumlah bahan dokumen yang diterbitkan atau buku yang diperoleh dari tangan pertama (pelaku sejarah) bisa dikategorikan sebagai sumber primer. Membaca sambil mencatat bisa menjadi cara efektif mendapatkan data. Di samping itu juga bisa dengan mengajukan daftar-daftar pertanyaan yang jawabannya akan didapatkan dari bahan yang kita baca. Yang perlu dipertanyakan adalah mengenai kesan umum, tujuan dan tesis buku, penyajian butir-butir pokok, generalisasi dan konklusi, identifikasi tentang pengarang, identifikasi historiografis, penilaian isi dan relevansi bahan, ilustrasi grafik,catatan kaki, lampiran dan indeks. Selanjutnya peneliti perlu membuat catatan ulasan kritis tentang sebuah buku yang paling relevan dengan riset.  

Lantas bagaimana cara membuat catatan penelitian? Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana bentuk kartu catatan penelitian, bentuk isi catatan penelitian kepustakaan dan barulah melangkah pada teknik pencatatan bahan penelitian. Kartu catatan penelitian biasanya disusun secara terpisah ke dalam tiga kelompok besar: kartu bibliografi kerja, kartu catatan bahan bacaan,dan lembar kerja khusus.  Bentuk isi catatan penelitian pun ada banyak jenisnya,yaitu: catatan ekstrak, catatan ringkasan, catatan referensi, catatan deskriptif dan catatan reflektif.

Tahap-tahap yang dilakukan dalam mencatat bahan penelitian adalah: mempersiapkan peralatan pencatatan, membaca bagian kata pengantar , daftar isi dan pendahuluan. Selanjutnya perlu diingat untuk selalu mencatat informasi bibliografis pada bagian atas  kartu di halaman pertama. Jangan lupa mencatat tanggal dan nama perpustakaan tempat anda membaca. Perlu diingat juga untuk selalu memberi tanda kutip pada kutipan langsung dan tanda kurung [ ] bila menemukan kata-kata  yang membingungkan dan belum dimengerti maksudnya. Lalu, upayakan untuk selalu menjaga interaksi antara bahan yang dibaca dan problematika penelitian. Jangan terlalu boros membuat catatan penelitian, ringkaslah dengan bahasa sendiri. Jangan pula menulis catatan secara bolak-balik. Cek kembali ketiga jenis catatan penelitian untuk konsistensi data.

            Semua jenis catatan penelitian merupakan bahan mentah yang perlu diolah lebih lanjut pada tahap analisis dan  sintesis. Sebagian analisis sifatnya cukup sederhana dan sebagian lainnya agak rumit. Analisis biasanya dilakukan dengan menganalisis isi teks. Biasanya sejumlah pertanyaan diajukan dalam tahap ini. Apakah isi sebenarnya dari sebuah pernyataan dalam teks? Apakah pengarang memiliki prasangka (bias) dalam tulisannya? Apa tujuan pengarang membuat laporan tersebut? Apakah pernyataan dalam teks sudah meyakinkan sehingga tidak lagi memerlukan koroborosi? 

Setelah itu barulah memasuki tahap sintesis yaitu penggabungan-penggabungan hasil analisis ke dalam struktur konstruksi yang mudah dimengerti secara utuh dan keseluruhan. Sintesis yang baik haruslah menggabungkan semua data yang terkait  dengan komponen-komponen analisis. Sintesis juga harus mencakup upaya penggabungan antara  temuan analisis dan sintesis. Pada akhirnya, riset pustaka tentu saja tidak sekedar urusan membaca dan mencatat literatur atau buku-buku sebagaimana yang sering dipahami banyak orang selama ini melainkan suatu metode yang lebih terperinci dan rumit.  


felixray wrote on May 12, '08
hai...
bwt tugas kul neh...
hehe...
thx ya...^_^
steo89 wrote on Apr 22, '10
oke bro, thanks, berkunjung
http://www.steoomeslim.co.cc/
puchik270210 wrote on Apr 24, '10
iank lengkap dunz studi pustaka'na....
biar bs ngrjain tugas kampuz.....
example'na :
1. ada tujuan*na...
2. kapan dan dmn studi kepustakaan dilakukan??
3. sistem pelayanan gmn...?
a. sistem pelayanan terbuka
b. sistem pelayanan tertutup
4. sistem di perpustakaan ??
di klarifikasikan
5. sumber bacaanyg da di perpustakaan aph* ajjh...??
6. manfaat'na studi kepustakaan tu aph* ajjh..??

gt loooh..........
tu sedikit saya kasih info'na..
tolong iah klo bisa di cariin...
finanovtania wrote on Nov 20, '10
nice to visit u're article...litle help me..thanx..
Add a Comment